Minggu, 16 Juli 2017

Kepercayaan Dan Agama Purba Tompaso


Kepercayaan agama purba Minahasa umumnya merupakan konsep tertinggi dari segala aspek kehidupan. Demikian halnnya orang Tompaso dijaman purba meyakini adanya kekuatan supra natural yang berpusat pada satu nama “ Amang Kasuruan Wangko”, yang pasti agama suku ini adalah mengandung unsur monoteisme tidak seperti anggapan orang selama ini. Dalam konsep kepercayaan ini ada tiga unsur keyakinan kekuatan supranatural namun berlainan satu dengan yang lainnya yaitu 1. Amang Kasuruan Wangko bertindak sebagai Tuhan dan pusat dari kepercayaan, 2. Para Tonaas dan Walian yang sudah mati dan diyakini sebagai suatu Roh yang hidup dan sebagai penghubung antara dunia nyata dan dunia akhirat, 3. Reges atau angin yang dianggap sebagai kekuatan nyata yang dapat hadir dan dirasakan manusia meskipun itu berwujud kebaikan dan kejahatan. Amang Kasuruan Wangko dianggap sebagai pencipta seluruh alam dan isinya yang dikenal oleh manusia yang memujanya. Karema yang mewujudkan diri sebagai manusia adalah sebagai penunjuk jalan bagi lumimuut dan merupakan pemimpin agama purba yang pertama bagi suku Minahasa. Para leluhur Minahasa yang pernah hidup ratusan tahun lampau dan memiliki kekuatan lebih dari manusia biasanya dianggap sebagai dewa dewi, semua dewa dewi dinamakan opo.
Dewa yang penting sesudah dewa tertinggi ialah karema (wanita sebagai manusia pertama) untuk mendapatkan keturunan seorang pria yang bernama to’ar, yang dianggap sebagai pembawa adat khususnya cara-cara pertanian (dewa pembawa adat). Roh leluhur juga disebut “Ma’tua”, atau sering disebut “dotu” yang pada masa hidupnya adalah seorang yang dianggap sakti dan juga sebagai pahlawan seperti pemimpin-pemimpin komunitas besar ( kepala walak dan pakasaan ). Mereka juga dalam hidupnya memiliki keahlian dan prestasi seperti dalam perang, keagamaan dan kepemimpinan. Ada kepercayaan bahwa Ma’tua yang baik akan senantiasa menolong manusia yang dianggap sebagai cucu mereka ( puyun) apabila mengikuti petunjuk-petunjuk yang diberikan. Kekuatan sakti yang diberikan pada umumnya dapat diketahui apakah kekuatan itu baik atau tidak lewat jimat atau pusaka yang diberikan. Jika pusaka atau jimat itu didapat dengan tiada suatu perjanjian kurban dan ritual maka itu merupakan kekuatan sakti yang baik. Disamping itu, ada juga Matua yang memberikan kekuatan sakti untuk hal-hal yang tidak baik, seperti untuk mencuri, berjudi dsb. Pelanggaran yang terjadi dapat mangakibatkan yang bersangkutan akan mengalami bencana atau kesulitan hidup akibat murka “Ma’tua”, ataupun kekuatan sakti yang diberikan akan hilang.
Konsepsi makhluk halus lainnya seperti hantu atau angin jahat ‘Reges Lewo’, pontiana, pok-pok dsb yang dianggap berada di tempat tertentu dan pada saat dan keadaan tertentu dapat maengganggu manusia. Untuk menghadapi hal-hal tersebut sangat dirasakan peranan dari Matua atau dotu yang dapat menghadapi atau mengalahkan mereka atau mengatasi gangguan dari mereka. Agama purba Tompaso disebut “Makatana” artinya pengetahuan sipencipta dan sipemilik bumi yakni Amang Kasuruan Wangko. Upacara keagamaan dipimpin oleh Walian atau pendeta agama asli (alifuru) yang mengucapkan doa kepada Amang Kasuruan wangko dilangit untuk memohon berkat atau melakukan pemujaan serta persembahan korban. Dalam setiap permohonan berkat dilakukan persembahan korban, dan persembahan korban tertinggi adalah kepala manusia yang sudah terpancung. Upacara upacara adat mendirikan rumah baru, tarian kesuburan, membuka desa baru (roong weru), pemakaman Tonaas selalu menggunakan kepala orang yang sudah disediakan oleh Pamuis (waraney pencari kepala orang).
Jiwa yang dianggap sebagai kekuatan yang ada dalam tubuh manusia yang menyebabkan adanya hidup, memiliki konsepsi yang sama dengan jiwa sesudah meninggalkan tubuh karena mati atau roh. Konsepsi jiwa dan roh ini disebut “katotou’an”. Unsur kejiwaan dalam kehidupan manusia adalah : “Kataneyan” (ingatan), “Niatean” (perasaan), dan keketer (kekuatan). Kataneyan adalah unsur yang utama dalam jiwa. Pada saat sekarang, sesuai dengan aturan-aturan agama Kristen, maka konsepsi dunia akhirat (sekalipun untuk mereka yang masih melakukan upacara-upacara kepercayaan pribumi untuk mendapatkan kekuatan sakti dari makhluk-makhluk halus) ialah surga bagi yang selamat, serta neraka bagi yang berdosa dan tidak percaya. Upacara-upacara agama alifuru masih banyak dilakukan oleh orang Tompaso sebagai perwujudan untuk mengadakan hubungan dengan dunia gaib atau sebagai unsur kepercayaan atas dasar suatu pemenuhan emosi keagamaan, upacara-upacara itu diantaranya adalah yang biasa dilakukan pada malam hari di rumah tona’as atau di rumah orang lain, bisa juga di tempat-tempat keramat seperti kuburan para Tonaas, batu-batu sakral diwilayah Tompaso, sungai atau kali juga ditempat tempat sakral (kapelian) serta di bawah pohon besar. Pada saat tertentu yang dianggap penting upacara dapat dilakukan di Watu Pinawetengan, tempat di mana secara mitologis paling keramat di Minahasa. Upacara dilakukan pada saat tertentu, misalnya pada malam bulan purnama. Tokoh tradisional yang melakukan dan memimpin upacara keagamaan pribumi dikenal dengan nama walian, pemimpin upacara dapat dipegang oleh wanita atau pria, namun sekarang dikenal dengan sebutan “Pa’ampetan”.
Tompaso sekarang secara resmi telah memeluk agama-agama Protestan, Katolik maupun Islam merupakan peninggalan sistem religi zaman dahulu sebelum berkembangnya agama Kristen. Akan tetapi Unsur-unsur kepercayaan agama purba Tompaso masih terbawah dalam beberapa upacara adat yang dilakukan orang Tompaso yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa lingkaran hidup individu, seperti kelahiran, perkawinan, kematian maupun dalam bentuk-bentuk pemberian kekuatan gaib dalam menghadapai berbagai jenis bahaya, serta yang berhubungan dengan pekerjaan atau mata pencaharian. Unsur-unsur ini tentu juga tampak dalam wujud perdukunanyang masih hidup sampai sekarang. Kapelian (tempat suci dan sakral) atau dunia gaib sekitar manusia dianggap didiami oleh makhluk-makhluk halus seperti roh-roh leluhur baik maupun jahat, hantu-hantu dan kekuatan gaib lainnya. Usaha manusia untuk mengadakan hubungan dengan makhluk-makhluk tersebut bertujuan supaya hidup mereka tidak diganggu sebaliknya dapat dibantu dan dilindungi, dengan mengembangkan suatu kompleks sistem upacara pemujaan yang dahulu dikenal sebagai Tumengo, Rumages, masambo dll. Roh (mukud) orangtua sendiri ataupun roh-roh kerabat yang sudah meninggal dianggap selalu berada di sekitar kelurganya yang masih hidup, yang sewaktu-waktu datang menun jukkan dirinya dalam bentuk bayangan atau mimpi atau dapat pula melalui seseorang sebagai media yang dimasuki oleh mukur (kinatimboyan) sehingga bisa bercakap-cakap dengan kerabatnya. Mukud yang demikian tidak dianggap berbahaya malahan bisa menolong kerabatnya.
Demikan halnya dengan “Mangalipopo”(berjalan dan bercerita dengan mukud) merupakan seseorang yang dipakai oleh para leluhur untuk mengunjungi para cucu yang paling disayang oleh leluhur ini. Kepercayaan orang Tompaso untuk tumbuh-tumbuhan yang memiliki kekuatan sakti adalah tawa’ang, goraka (jahe), balacai, jeruk suangi dll.  Senjata yang dianggap memiliki kekuatan sakti yang harus dijaga dengan baik adalah segala benda lunak atau keras pemberian para leluhur baik tonaas ataupun walian yang disebut Wentel, ucapan berupa ‘putung’ (sumpah yang sudah dipatrikan) dan kutukan juga dikenal sebagai kata-kata yang dianggap dapat mengakibatkan malapetaka, apalagi kalau yang mengatakannya orangtua, kata-katanya dianggap memiliki kekuatan sakti. Agama-agama resmi yang umum dianut oleh orang Tompaso antara lain Protestan (yang terdiri dari berbagai sekte), katolik dan Islam. Terlepas dari tingkat kepercayaan perseorangan, unsur-unsur religi pribumi tidak dapat dilepaskan dari kehidupan keagamaan.



Walian Mangorai ; Pemimpin Keagamaan Suku Minahasa.

Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Blogroll

Tompaso Kita

Jurry Franky Langi
Yaku Ca U Si Tou Sapa-Sapa. Sapake Si Tou Niatean, Masale Touen Se Kayobaan Tumompaso Ni Myatem. Sapakem Ase Patik O Nuwu Anio Kumesot Ase Ate Wo Nontak Tou Rondor Pinatuusan Eng Kanaramen Minahasa An Tumompaso. Makakeli Mey Wo Mongken Wo Moray Kasadaran Nei Eng Kanaramenta Makakelim Pinasui Ila Wo Pakatambak-Tambak Ila. Taney Wo Rumondor Eng Sisilen Situm Eng Patik Ambiay. Muntungke Sa Awean Kinatoroan a Camo Pakasa.. 

Pee'Bo

Flag Counter

Pa'Dior

Popular Posts

Labels

Postingan Baru

Nuwu I Tua, Wo Ngeluan

  • Sa Cita Esa Sumerad, Sa Cita Sumerad Esa Cita.
  • Akad Se Tou Tumow Tou.
  • Pakamatuan Wo Pakalowiden.

Untuk Anda Saya Peduli

Butuh Bantuan Untuk Mengetahui Dan Belajar Tentang Kebudayaan Tompaso? Hubungi Saya dengan rincian tentang pertanyaan atau masukan untuk perkaya Kebudayaan Tumompaso.