Kepercayaan
agama purba Minahasa umumnya merupakan konsep tertinggi dari segala aspek
kehidupan. Demikian halnnya orang Tompaso dijaman purba meyakini adanya
kekuatan supra natural yang berpusat pada satu nama “ Amang Kasuruan Wangko”,
yang pasti agama suku ini adalah mengandung unsur monoteisme tidak seperti
anggapan orang selama ini. Dalam konsep kepercayaan ini ada tiga unsur
keyakinan kekuatan supranatural namun berlainan satu dengan yang lainnya yaitu
1. Amang Kasuruan Wangko bertindak sebagai Tuhan dan pusat dari kepercayaan, 2.
Para Tonaas dan Walian yang sudah mati dan diyakini sebagai suatu Roh yang
hidup dan sebagai penghubung antara dunia nyata dan dunia akhirat, 3. Reges
atau angin yang dianggap sebagai kekuatan nyata yang dapat hadir dan dirasakan
manusia meskipun itu berwujud kebaikan dan kejahatan. Amang Kasuruan Wangko
dianggap sebagai pencipta seluruh alam dan isinya yang dikenal oleh manusia
yang memujanya. Karema yang mewujudkan diri sebagai manusia adalah sebagai
penunjuk jalan bagi lumimuut dan merupakan pemimpin agama purba yang pertama
bagi suku Minahasa. Para leluhur Minahasa yang pernah hidup ratusan tahun
lampau dan memiliki kekuatan lebih dari manusia biasanya dianggap sebagai dewa
dewi, semua dewa dewi dinamakan opo.
Dewa
yang penting sesudah dewa tertinggi ialah karema (wanita sebagai manusia
pertama) untuk mendapatkan keturunan seorang pria yang bernama to’ar, yang
dianggap sebagai pembawa adat khususnya cara-cara pertanian (dewa pembawa adat).
Roh leluhur juga disebut “Ma’tua”, atau sering disebut “dotu” yang pada masa
hidupnya adalah seorang yang dianggap sakti dan juga sebagai pahlawan seperti
pemimpin-pemimpin komunitas besar ( kepala walak dan pakasaan ). Mereka juga
dalam hidupnya memiliki keahlian dan prestasi seperti dalam perang, keagamaan
dan kepemimpinan. Ada kepercayaan bahwa Ma’tua yang baik akan senantiasa
menolong manusia yang dianggap sebagai cucu mereka ( puyun) apabila mengikuti
petunjuk-petunjuk yang diberikan. Kekuatan sakti yang diberikan pada umumnya
dapat diketahui apakah kekuatan itu baik atau tidak lewat jimat atau pusaka
yang diberikan. Jika pusaka atau jimat itu didapat dengan tiada suatu
perjanjian kurban dan ritual maka itu merupakan kekuatan sakti yang baik. Disamping
itu, ada juga Matua yang memberikan kekuatan sakti untuk hal-hal yang tidak
baik, seperti untuk mencuri, berjudi dsb. Pelanggaran yang terjadi dapat
mangakibatkan yang bersangkutan akan mengalami bencana atau kesulitan hidup
akibat murka “Ma’tua”, ataupun kekuatan sakti yang diberikan akan hilang.
Konsepsi
makhluk halus lainnya seperti hantu atau angin jahat ‘Reges Lewo’, pontiana,
pok-pok dsb yang dianggap berada di tempat tertentu dan pada saat dan keadaan
tertentu dapat maengganggu manusia. Untuk menghadapi hal-hal tersebut sangat
dirasakan peranan dari Matua atau dotu yang dapat menghadapi atau mengalahkan
mereka atau mengatasi gangguan dari mereka. Agama
purba Tompaso disebut “Makatana” artinya pengetahuan sipencipta dan sipemilik
bumi yakni Amang Kasuruan Wangko. Upacara keagamaan dipimpin oleh Walian atau
pendeta agama asli (alifuru) yang mengucapkan doa kepada Amang Kasuruan wangko
dilangit untuk memohon berkat atau melakukan pemujaan serta persembahan korban.
Dalam setiap permohonan berkat dilakukan persembahan korban, dan persembahan
korban tertinggi adalah kepala manusia yang sudah terpancung. Upacara upacara
adat mendirikan rumah baru, tarian kesuburan, membuka desa baru (roong weru),
pemakaman Tonaas selalu menggunakan kepala orang yang sudah disediakan oleh
Pamuis (waraney pencari kepala orang).
Jiwa
yang dianggap sebagai kekuatan yang ada dalam tubuh manusia yang menyebabkan
adanya hidup, memiliki konsepsi yang sama dengan jiwa sesudah meninggalkan
tubuh karena mati atau roh. Konsepsi jiwa dan roh ini disebut “katotou’an”.
Unsur kejiwaan dalam kehidupan manusia adalah : “Kataneyan” (ingatan),
“Niatean” (perasaan), dan keketer (kekuatan). Kataneyan adalah unsur yang utama
dalam jiwa. Pada saat sekarang, sesuai dengan aturan-aturan agama Kristen, maka
konsepsi dunia akhirat (sekalipun untuk mereka yang masih melakukan
upacara-upacara kepercayaan pribumi untuk mendapatkan kekuatan sakti dari
makhluk-makhluk halus) ialah surga bagi yang selamat, serta neraka bagi yang
berdosa dan tidak percaya. Upacara-upacara agama alifuru masih banyak dilakukan
oleh orang Tompaso sebagai perwujudan untuk mengadakan hubungan dengan dunia
gaib atau sebagai unsur kepercayaan atas dasar suatu pemenuhan emosi keagamaan,
upacara-upacara itu diantaranya adalah yang biasa dilakukan pada malam hari di
rumah tona’as atau di rumah orang lain, bisa juga di tempat-tempat keramat
seperti kuburan para Tonaas, batu-batu sakral diwilayah Tompaso, sungai atau
kali juga ditempat tempat sakral (kapelian) serta di bawah pohon besar. Pada
saat tertentu yang dianggap penting upacara dapat dilakukan di Watu
Pinawetengan, tempat di mana secara mitologis paling keramat di Minahasa.
Upacara dilakukan pada saat tertentu, misalnya pada malam bulan purnama. Tokoh
tradisional yang melakukan dan memimpin upacara keagamaan pribumi dikenal
dengan nama walian, pemimpin upacara dapat dipegang oleh wanita atau pria,
namun sekarang dikenal dengan sebutan “Pa’ampetan”.
Tompaso
sekarang secara resmi telah memeluk agama-agama Protestan, Katolik maupun Islam
merupakan peninggalan sistem religi zaman dahulu sebelum berkembangnya agama
Kristen. Akan tetapi Unsur-unsur kepercayaan agama purba Tompaso masih terbawah
dalam beberapa upacara adat yang dilakukan orang Tompaso yang berhubungan
dengan peristiwa-peristiwa lingkaran hidup individu, seperti kelahiran,
perkawinan, kematian maupun dalam bentuk-bentuk pemberian kekuatan gaib dalam
menghadapai berbagai jenis bahaya, serta yang berhubungan dengan pekerjaan atau
mata pencaharian. Unsur-unsur ini tentu juga tampak dalam wujud perdukunanyang
masih hidup sampai sekarang. Kapelian
(tempat suci dan sakral) atau dunia gaib sekitar manusia dianggap didiami oleh
makhluk-makhluk halus seperti roh-roh leluhur baik maupun jahat, hantu-hantu
dan kekuatan gaib lainnya. Usaha manusia untuk mengadakan hubungan dengan
makhluk-makhluk tersebut bertujuan supaya hidup mereka tidak diganggu
sebaliknya dapat dibantu dan dilindungi, dengan mengembangkan suatu kompleks
sistem upacara pemujaan yang dahulu dikenal sebagai Tumengo, Rumages, masambo
dll. Roh
(mukud) orangtua sendiri ataupun roh-roh kerabat yang sudah meninggal dianggap
selalu berada di sekitar kelurganya yang masih hidup, yang sewaktu-waktu datang
menun jukkan dirinya dalam bentuk bayangan atau mimpi atau dapat pula melalui seseorang
sebagai media yang dimasuki oleh mukur (kinatimboyan) sehingga bisa
bercakap-cakap dengan kerabatnya. Mukud yang demikian tidak dianggap berbahaya
malahan bisa menolong kerabatnya.
Demikan
halnya dengan “Mangalipopo”(berjalan dan bercerita dengan mukud) merupakan
seseorang yang dipakai oleh para leluhur untuk mengunjungi para cucu yang
paling disayang oleh leluhur ini. Kepercayaan orang Tompaso untuk
tumbuh-tumbuhan yang memiliki kekuatan sakti adalah tawa’ang, goraka (jahe),
balacai, jeruk suangi dll. Senjata yang
dianggap memiliki kekuatan sakti yang harus dijaga dengan baik adalah segala
benda lunak atau keras pemberian para leluhur baik tonaas ataupun walian yang
disebut Wentel, ucapan berupa ‘putung’ (sumpah yang sudah dipatrikan) dan
kutukan juga dikenal sebagai kata-kata yang dianggap dapat mengakibatkan
malapetaka, apalagi kalau yang mengatakannya orangtua, kata-katanya dianggap
memiliki kekuatan sakti. Agama-agama
resmi yang umum dianut oleh orang Tompaso antara lain Protestan (yang terdiri
dari berbagai sekte), katolik dan Islam. Terlepas dari tingkat kepercayaan
perseorangan, unsur-unsur religi pribumi tidak dapat dilepaskan dari kehidupan
keagamaan.
Walian Mangorai ; Pemimpin Keagamaan Suku Minahasa.












0 komentar:
Posting Komentar