Tompaso yang kita kenal kini merupakan suatu wilayah
kecamatan yang berada di daerah kabupaten Minahasa. Saat ini Tompaso sudah
berkembang dan telah terbagi pada dua kecamatan dimana kecamatan Tompaso Barat
sudah dimekarkan dari kecamatan induknya yaitu Tompaso. Yang menjadi bahasan
dari tulisan saya berikut merupakan sejarah dari suatu nama lokasi pemukiman,
pemerintahan masa lalu setidaknya nama ini pernah dipakai dan dikenal beberapa
ratus tahun dan berakhir kira-kira di permulaan abad 19. Nama itu adalah
Tompasso, sebetulnya tidak ada yang salah dalam memaknai arti dari tulisan
dengan memakai dua ‘s’ atau satu ‘s’. Namun akan menjadi berbeda jauh jika kita
mengikuti gramatikal bahasa yang dipakai ‘’Tumontemboan makele’I’’, akan
memiliki makna dan arti yang pasti berbeda. Hematnya penyebutan Tompasso akan
lebih bermakna tegas, dan berwibawa. Dari referensi tulisan grafland dan taulu
mereka menulis dan menyebut suatu lokasi pemerintahan Tompaso kini dengan “Tompasso”.
Kenapa penyebutan Tompasso dahulu harus dimaknai demikian
seperti diatas, akan menjadi pertanyaan lanjutan untuk mendapatkan suatu
jawaban. Bahwa, sebelum diadakan pembagian tanah malesung maka lahirlah satu
tokoh sentral (pemegang pimpinan pemerintahan, adat tertinggi ditanah malesung)
yaitu MUNTU UNTU, dan prajurit-prajurit gagah berani atau para WARANEY di tanah
Malesung. Dari sinilah sifat-sifat berani (wara), pintar (ngaasan), orang baik
(tou sama) dan kepahlawanan dari putera puteri ini menjadi spirit dan
kebanggaan generasi berikutnya. Pada saat pembagian etnis Minahasa di Watu
Pinabetengan maka putera-putera didaerah Timbukar Kamanga inilah yang memegang
peranan sebagai pemimpin pembagian tanah malesung saat itu.
Ketika penduduk
malesung tersebar begitu luas diperkirakan ada tiga kalinya Watu Pinawetengan
dijadikan tempat pertemuan masyarakat malesung. Dan yang pasti para pemimpin
upacara adat pemerintahan hingga keagamaan saat itu sebagian besar tetap
tinggal dan menetap di lokasi pemukiman awal ini. Pada pertemuan dan musyawarah ketiga suku Minahasa yang
masih tetap tinggal dilokasi awal dan beberapa utusan tetua taranak di
masing-masing sub-etnis yang telah tersebar untuk diadakan pertemuan dan
mengikrarkan NIMAESA yang menjadi nama baru menggantikan nama Malesung dan
coretan figuratif di Watu Pinabetengan dilakukan untuk membagi tanah Malesung. Bahwa untuk penduduk yang
masih menetap dilokasi lama pemukiman Minahasa yaitu didaerah Timbukar-Kamanga
dan sebagian lagi ada di lokasi Mawale.
Namun pada suatu massa setelah tanah pemukiman
awal ini terjadi stagnasi atau kurang berkembangnya suatu kebudayaan,
pemerintahan dan kehidupan sosial ditanah ini. Bahwa sebagai bentuk jawaban
untuk mengembalikan kembali kejayaan tanah malesung dahulu, kemudian diadakan
suatu ikrar dan pergantian nama Timbukar Kamanga menjadi Tompasso. Tompasso
berasal dari dua kata yaitu Tou (orang) dan passo (panas) yang berarti orang
yang panas/ berani dan pintar. Dengan alasan membangkitkan (memanaskan kembali)
semangat dan spirit serta kejayaan bagi orang-orang ditanah malesung kembali.
Bahwa sifat atau karakter memimpin dengan berani, tegas dan
berwibawanya para pendahulu ini menurun sampai pada generasi sekarang dengan
ditandai dengan dialek atau bahasa Tompasso yang tegas (bukan ba marah2)
seperti anggapan orang. Seperti kata Mabisako, Meyemboko, Ca ure, dan lainnya
dengan aksen Tumompaso. Orang Tompasso paling banyak mengenal kata perintah.
Hal ini disebabkan orang Tompasso banyak sekali pemimpin termasuk Tokoh MUNTU
UNTU yang membagi tanah Malesung (Minahasa) dan panglima perang serta prajurit-prajurit
perkasa di daerah Padior. Otomatis bahasa yang dipakai selalu adalah bahasa
perintah.
Masyarakat Tompasso dalam perkembangan selanjutnya untuk
mencari lahan pemukiman baru, lahan pertanian yang lebih luas berusaha untuk
mencari daerah yang lebih ideal dimana pokok utama pencarian pemukiman baru
adalah masih adanya penyakit sampar dan kolera di daerah timbukar kamanga. Pada
abad kesebelas tujuan baru pemikiman masyarakat di lokasi timbukar kamanga
adalah menuju kearah timur dan selatan. Dimana ada sebagian masyarakat timbukar
yang tidak mau menuju arah timur tetapi menuju kearah selatan yaitu desa
tonsewer saat ini. Tonsewer berasal dari dua kata yaitu tou (orang) dan sewer
(menepi,minggir) juga desa kanonang yang saat ini merupakan wilayah
administrasi kecamatan kawangkoan adalah desa yang didirikan masyarakat yang
bermukim di timbukar kamanga ini tetapi hanya sebagian kecil dan nantinya lebih
berkembang setelah desa pinabetengan berdiri dan sebagian besar menuju arah
kanonang.
Sedangkan masyarakat timbukar lainnya menuju kearah timur
dan mendirikan perkampungan baru yang disebut waleure (rumah tua), yang pada
tahapan waktu selanjutnya memekarkan diri menjadi dua desa (wanua) yaitu
sendangan (timur) karena berada disebelah timur dan desa talikuran (barat) yang
berada di sebelah barat. Begitupun demikian masyarakat kamanga yang berada
diperkampungan timbukar kamanga pergi sekaligus kearah timur dengan mendirikan
perkampungan baru (Roong Weru), amat terlebih untuk menghalau orang dari timur
yang semakin dekat memasuki wilayah Tompasso (sumenget se tou) dengan nama yang masih sama yaitu kamanga. Hal
demikianpun bagi masyarakat mawale yang masih tersisa dipemukiman mawale,
secara keseluruhan merekapun menuju kearah timur dan mendiririkan pemukiman
sementara (nibaan) yang pada saat ini kita kenal dengan desa liba.
Tompasso dalam penyebutan sekarang ini yang kita kenal
tentulah penyebutan istilah yang diambil dari karakter masyarakatnya yang
berani, tegas, pandai dan berjiwa pemimpin. Hal lainnya dalam penyebutan
teritori wilayah tompaso sekarang ini akan mengacu pada penyebutan istilah atau
makna yang baru. Tompasso juga merupakan pusat Minahasa yang ditandai dengan
adanya batu Tuur In Tana atau Pusser In Tana yang terletak didesa sendangan di
halaman keluarga Turangan Tewu.











0 komentar:
Posting Komentar