Senin, 12 Juni 2017

Siklus Kepemimpinan Tumompaso

Anda boleh jadi pemimpin setinggi apapun kau mau, Tapi jangan sekali kali kau melupakan akar budayamu.

Peradaban dan kejayaan Tompasso di tanah Minahasa telah terjadi sesuai catatan sejarah lewat tuturan atau cerita rakyat, lewat peninggalan sejarah purbakala, atau lewat penulisan ilmiah para pakar masa kini dari berbagai macam disiplin ilmunya. Semuanya merupakan peristiwa masa lalu. Lalu bagaimanakah kondisi masa kini?. Kondisi kini mau tidak mau harus kita akui, peradaban dan siklus kepemimpinan telah berpihak kepada sesama atau saudara kita ditempat lain. Kejayaan masa silam seakan hendak dihapuskan oleh mereka melalui propaganda yang terus digencarkan. Bahkan selama ini ada opini bahwa kita adalah negeri kelas dua dan bodoh bahkan kurang pantas mengambil bagian dalam kepemimpinan negeri ini. Dan pendapat ini, sungguh suatu kekeliruan yang fatal.

Tompasso: Ibu Umat dan Daerah-daerah Minahasa
Kawasan Tompaso kini telah menjadi “ibu bagi Umat Manusia dan Daerah tanah Minahasa” seperti ingin mereka tinggalkan dan tidak mengakui sebagai sumber peradaban yang agung sejak dahulu kala di tanah Minahasa. Bahkan ada saja orang yang membuat kebodohan menyatakan Toar dan Lumimuut merupakan Anak dan Ibu yang menjadi leluhur suku Minahasa, klaim Mapalus, Waruga, Kawasaran dan Puser in Ta’na adalah milik mereka. Para pemimpin negeri dan keagamaan seperti Tonaas dan Walian sering dituturkan tapi bukan milik Tumompaso. Peradaban Minahasa diawali sejak tahun 400 SM di daerah ‘Mawale’ dan ‘Timbukar Kamanga’, bahkan sebelum tahun 777 dimana sub-etnis Minahasa disebar sudah menjadi daerah metropolitan pertama di bumi nusantara indonesia ini. Dan pada akhirnya melahirkan banyak keturunan, serta dari sanalah negeri-negeri lain di tanah Minahasa tercipta.

Bersumber dari satu ibu; yaitu Negeri Tumompaso, semua sub-etnis dan negeri di jazirah Minahasa ini memiliki peluang yang sama untuk tampil menjadi pemimpin guna mewarnai peradaban. Tidak ada satu pun sub-etnis yang mampu terus menerus mendominasi kekuatan tanah Minahasa. Pada perguliran waktu yang cukup lama, setelah memasuki abad ke-19, etnis Tou’Muung, Tou’undano, Tou’unsea serta Tou’untemboan Kumawangkoan sempat mendominasi kepemimpinan dijazirah Minahasa hingga kini. Siklus kekuasaan kini terus bergerak sesuai dengan perputaran alam. Dominasi sub-etnis dalam mewarnai peradaban terus berputar sesuai dengan siklus sejarah. Pada masa tertentu yang sangat panjang, sub-etnis Tou’unTemboan Tumompaso sebagai akar keturunan Bangsa Minahasa pernah sangat berkuasa di Jazirah Minahasa., sampai mampu mewarnai peradaban dan kejayaannya, termasuk menciptakan sistem pendidikan, perang, kebudayaan serta kesenian. Seiring berputarnya waktu, siklus alam itu pelan-pelan pun meredup. Tou Tumompaso tidak lagi terdengar pengaruhnya, karena ditaklukan oleh kamuflase sesat serta pembodohan hingga politik penjajah merecoki ke-Maesa-an kita. Pada lain zaman, sub etnis Tou’untemboan Tumompaso pernah begitu berkuasa mewarnai peradaban tanah Minahasa, pelan-pelan mereka pun meredup sampai menjadi Tou yang terjajah oleh mental kerdil pasif dan tidak mau bergerak.

Kembalinya kini Kepemimpinan dari Tou Tumompaso
Semua memang ada masanya, itulah siklus alam yang telah ditentukan oleh Tuhan. Setelah kepemimpinan kini tanpa atau kurangnya Tou Tumompaso di jazirah Minahasa, berdasarkan analisis prediksi dan perhitungan estafet kepemimpinan dimandatkan kembali oleh Tuhan kepada Tou Tumompaso. Kejayaan Minahasa kembali harusnya melibatkan Tou Tumompaso sebagai negeri pemegang ‘Hak Kesulungan’ karena dari sanalah seluruh umat di jazirah Minahasa akan menjadi berkat bahkan di bumi nusantara. Keterpurukan perlambatan dan kesulitan berkembang ditanah Minahasa sudah menjadi bagian sejarah masa lalu. Masa depan jazirah Minahasa akan berada di kawasan Tompaso dan Tou Tumompasonya. Namun para petinggi serta elite nakal dengan segala macam cara akan berusaha melakukan konspirasi global untuk menghancurkan siklus alam yang akan terjadi ini.

Berbagai penemuan dari jejak masa lalu di bumi Tompasso ini adalah salah satu pintu gerbang untuk jazirah Minahasa mengambil kembali kejayaannya di masa silam. Peninggalan sejarah adalah fakta riil. Dan tugas serta tanggung jawab para pewaris Tumompaso inilah yang harus secara serius menggali kebesaran sejarah masa silam, untuk modal kejayaan di masa yang akan datang. Negeri Tumompaso kini harus percaya pada diri sendiri. Tidak perlu percaya dan mengandalkan dan menggunakan refrensi “ilmuan asing” yang selama ribuan tahun membawa “misi politik” untuk melemahkan kebesaran Tumompaso Minahasa. Indonesia sudah mengakuinya, seorang Rumambi, Suak, Wenas, Mamesah bahkan Duo Laoh, pemimpin dibidangnya masing-masing ditempa di negeri Tumompaso.

Saat ini, setelah para elit mengetahui bahwa siklus kepemimpinan akan kembali berkiblat ke Tumompaso, mereka bersikap ambivalen. Satu sisi berusaha menghentikan “siklus alam” dengan cara melemahkan mentalitas Tou Tumompaso. Pada sisi lain mereka menyadari, tidak ada satu kekuatan mana pun yang mampu menghentikan roda berputarnya alam. Bila alam sudah berkehendak, semua pasti terjadi. Bila bunga sudah waktunya “mekar”, tidak akan ada yang bisa meredupkannya kembali. Bunga itu pasti akan mekar dan terus mekar, sampai alam sendiri yang menentukan batas mekarnya.
Faktor tersebutlah yang menjadi alasan kuat kenapa negeri lain begitu takut dan menghormati Tumompaso. Entah, kapan siklus alam ini dapat direalisasikan. Tentu semuanya tergantung kemauan dari Tou Tumompaso itu sendiri. Kitalah yang harus berbuat lebih banyak. Yang harus dapat membuktikan kepada dunia, akan peradaban agung yang pernah kita miliki, dan kini akan bangkit kembali. Siklus kepemimpinan Tou Tumompaso sudah menanti Jazirah Minahasa.***


Share:

2 komentar:

  1. Maju terus Tompasso dan selesaikan problem PGE secara bijak yang menguntungkan masyarakat banyak. Dan jangan mau di pecah belah.

    BalasHapus
  2. Satu lagi ..! Jangan biarkan lingkungan tercemar. Kembalikan habitat pada bentuk semula . Sa awean mata air yo wana rano, mintalah pertanggung jawaban pada pihak PGE... Asal kan harus tau pasti kalau merekalah penyebabnya. Mungkin dengan penelitian ilmiah. Tompaso banyak orang pinter to? Pangge pa dorang.

    BalasHapus

Blogroll

Tompaso Kita

Jurry Franky Langi
Yaku Ca U Si Tou Sapa-Sapa. Sapake Si Tou Niatean, Masale Touen Se Kayobaan Tumompaso Ni Myatem. Sapakem Ase Patik O Nuwu Anio Kumesot Ase Ate Wo Nontak Tou Rondor Pinatuusan Eng Kanaramen Minahasa An Tumompaso. Makakeli Mey Wo Mongken Wo Moray Kasadaran Nei Eng Kanaramenta Makakelim Pinasui Ila Wo Pakatambak-Tambak Ila. Taney Wo Rumondor Eng Sisilen Situm Eng Patik Ambiay. Muntungke Sa Awean Kinatoroan a Camo Pakasa.. 

Pee'Bo

Flag Counter

Pa'Dior

Popular Posts

Labels

Postingan Baru

Nuwu I Tua, Wo Ngeluan

  • Sa Cita Esa Sumerad, Sa Cita Sumerad Esa Cita.
  • Akad Se Tou Tumow Tou.
  • Pakamatuan Wo Pakalowiden.

Untuk Anda Saya Peduli

Butuh Bantuan Untuk Mengetahui Dan Belajar Tentang Kebudayaan Tompaso? Hubungi Saya dengan rincian tentang pertanyaan atau masukan untuk perkaya Kebudayaan Tumompaso.