Anda boleh jadi
pemimpin setinggi apapun kau mau, Tapi jangan sekali kali kau melupakan akar
budayamu.
Peradaban dan kejayaan Tompasso di tanah Minahasa telah
terjadi sesuai catatan sejarah lewat tuturan atau cerita rakyat, lewat
peninggalan sejarah purbakala, atau lewat penulisan ilmiah para pakar masa kini
dari berbagai macam disiplin ilmunya. Semuanya merupakan peristiwa masa lalu.
Lalu bagaimanakah kondisi masa kini?. Kondisi kini mau tidak mau harus kita
akui, peradaban dan siklus kepemimpinan telah berpihak kepada sesama atau
saudara kita ditempat lain. Kejayaan masa silam seakan hendak dihapuskan oleh
mereka melalui propaganda yang terus digencarkan. Bahkan selama ini ada opini
bahwa kita adalah negeri kelas dua dan bodoh bahkan kurang pantas mengambil
bagian dalam kepemimpinan negeri ini. Dan pendapat ini, sungguh suatu
kekeliruan yang fatal.
Tompasso: Ibu Umat dan Daerah-daerah Minahasa
Kawasan Tompaso kini telah menjadi “ibu bagi Umat Manusia
dan Daerah tanah Minahasa” seperti ingin mereka tinggalkan dan tidak mengakui
sebagai sumber peradaban yang agung sejak dahulu kala di tanah Minahasa. Bahkan
ada saja orang yang membuat kebodohan menyatakan Toar dan Lumimuut merupakan
Anak dan Ibu yang menjadi leluhur suku Minahasa, klaim Mapalus, Waruga,
Kawasaran dan Puser in Ta’na adalah milik mereka. Para pemimpin negeri dan
keagamaan seperti Tonaas dan Walian sering dituturkan tapi bukan milik
Tumompaso. Peradaban Minahasa diawali sejak tahun 400 SM di daerah ‘Mawale’ dan
‘Timbukar Kamanga’, bahkan sebelum tahun 777 dimana sub-etnis Minahasa disebar
sudah menjadi daerah metropolitan pertama di bumi nusantara indonesia ini. Dan
pada akhirnya melahirkan banyak keturunan, serta dari sanalah negeri-negeri
lain di tanah Minahasa tercipta.
Bersumber dari satu ibu; yaitu Negeri Tumompaso, semua
sub-etnis dan negeri di jazirah Minahasa ini memiliki peluang yang sama untuk
tampil menjadi pemimpin guna mewarnai peradaban. Tidak ada satu pun sub-etnis
yang mampu terus menerus mendominasi kekuatan tanah Minahasa. Pada perguliran
waktu yang cukup lama, setelah memasuki abad ke-19, etnis Tou’Muung,
Tou’undano, Tou’unsea serta Tou’untemboan Kumawangkoan sempat mendominasi
kepemimpinan dijazirah Minahasa hingga kini. Siklus kekuasaan kini terus
bergerak sesuai dengan perputaran alam. Dominasi sub-etnis dalam mewarnai
peradaban terus berputar sesuai dengan siklus sejarah. Pada masa tertentu yang
sangat panjang, sub-etnis Tou’unTemboan Tumompaso sebagai akar keturunan Bangsa
Minahasa pernah sangat berkuasa di Jazirah Minahasa., sampai mampu mewarnai
peradaban dan kejayaannya, termasuk menciptakan sistem pendidikan, perang,
kebudayaan serta kesenian. Seiring berputarnya waktu, siklus alam itu
pelan-pelan pun meredup. Tou Tumompaso tidak lagi terdengar pengaruhnya, karena
ditaklukan oleh kamuflase sesat serta pembodohan hingga politik penjajah
merecoki ke-Maesa-an kita. Pada lain zaman, sub etnis Tou’untemboan Tumompaso
pernah begitu berkuasa mewarnai peradaban tanah Minahasa, pelan-pelan mereka
pun meredup sampai menjadi Tou yang terjajah oleh mental kerdil pasif dan tidak
mau bergerak.
Kembalinya kini Kepemimpinan dari Tou Tumompaso
Semua memang ada masanya, itulah siklus alam yang telah
ditentukan oleh Tuhan. Setelah kepemimpinan kini tanpa atau kurangnya Tou
Tumompaso di jazirah Minahasa, berdasarkan analisis prediksi dan perhitungan
estafet kepemimpinan dimandatkan kembali oleh Tuhan kepada Tou Tumompaso.
Kejayaan Minahasa kembali harusnya melibatkan Tou Tumompaso sebagai negeri
pemegang ‘Hak Kesulungan’ karena dari sanalah seluruh umat di jazirah Minahasa
akan menjadi berkat bahkan di bumi nusantara. Keterpurukan perlambatan dan
kesulitan berkembang ditanah Minahasa sudah menjadi bagian sejarah masa lalu.
Masa depan jazirah Minahasa akan berada di kawasan Tompaso dan Tou
Tumompasonya. Namun para petinggi serta elite nakal dengan segala macam cara
akan berusaha melakukan konspirasi global untuk menghancurkan siklus alam yang
akan terjadi ini.
Berbagai penemuan dari jejak masa lalu di bumi Tompasso ini
adalah salah satu pintu gerbang untuk jazirah Minahasa mengambil kembali
kejayaannya di masa silam. Peninggalan sejarah adalah fakta riil. Dan tugas
serta tanggung jawab para pewaris Tumompaso inilah yang harus secara serius
menggali kebesaran sejarah masa silam, untuk modal kejayaan di masa yang akan
datang. Negeri Tumompaso kini harus percaya pada diri sendiri. Tidak perlu
percaya dan mengandalkan dan menggunakan refrensi “ilmuan asing” yang selama
ribuan tahun membawa “misi politik” untuk melemahkan kebesaran Tumompaso
Minahasa. Indonesia sudah mengakuinya, seorang Rumambi, Suak, Wenas, Mamesah
bahkan Duo Laoh, pemimpin dibidangnya masing-masing ditempa di negeri
Tumompaso.
Saat ini, setelah para elit mengetahui bahwa siklus
kepemimpinan akan kembali berkiblat ke Tumompaso, mereka bersikap ambivalen.
Satu sisi berusaha menghentikan “siklus alam” dengan cara melemahkan mentalitas
Tou Tumompaso. Pada sisi lain mereka menyadari, tidak ada satu kekuatan mana
pun yang mampu menghentikan roda berputarnya alam. Bila alam sudah berkehendak,
semua pasti terjadi. Bila bunga sudah waktunya “mekar”, tidak akan ada yang
bisa meredupkannya kembali. Bunga itu pasti akan mekar dan terus mekar, sampai
alam sendiri yang menentukan batas mekarnya.
Faktor tersebutlah yang menjadi alasan kuat kenapa negeri
lain begitu takut dan menghormati Tumompaso. Entah, kapan siklus alam ini dapat
direalisasikan. Tentu semuanya tergantung kemauan dari Tou Tumompaso itu
sendiri. Kitalah yang harus berbuat lebih banyak. Yang harus dapat membuktikan
kepada dunia, akan peradaban agung yang pernah kita miliki, dan kini akan
bangkit kembali. Siklus kepemimpinan Tou Tumompaso sudah menanti Jazirah
Minahasa.***











Maju terus Tompasso dan selesaikan problem PGE secara bijak yang menguntungkan masyarakat banyak. Dan jangan mau di pecah belah.
BalasHapusSatu lagi ..! Jangan biarkan lingkungan tercemar. Kembalikan habitat pada bentuk semula . Sa awean mata air yo wana rano, mintalah pertanggung jawaban pada pihak PGE... Asal kan harus tau pasti kalau merekalah penyebabnya. Mungkin dengan penelitian ilmiah. Tompaso banyak orang pinter to? Pangge pa dorang.
BalasHapus